Thursday, September 20, 2012

Manajemen Pengetahuan dalam Organisasi Pembelajaran

Hai teman-temin, terjemahan ODL bab 6 telah hadir.....selamat membaca, semoga bermanfaat.



Manajemen Pengetahuan dalam Organisasi Pembelajaran

THOMAS STEWART, dalam Intellectual Capital: The New Wealth of Oganizations (1997, p. ix), menuliskan, “Sederhananya, pengetahuan menjadi lebih penting bagi organisasi daripada sumber daya keuangan, posisi pasar, teknologi, atau aset perusahaan lainnya.” Dalam dunia kerja hari ini, pengetahuan dilihat sebagai sumber daya utama dalam kinerja di organisasi. Tradisi organisasi, budaya, teknologi, operasi, sistem, dan prosedur semuanya itu didasarkan pada pengetahuan dan keahlian.
Perusahaan-perusahaan memerlukan pengetahuan dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk mengembangkan produk dan pelayanannya, yang selanjutnya memberikan keuntungan bagi klien dan konsumennya. Produk dan pelayanan yang baik harus dibarengin dengan perubahan terhadap sistem, struktur, dan cara-cara berkomunikasi dalam memecahkan permasalahan (Davenport and Prusak, 1998). Pengetahuan merupakan makanan bagi organisasi pembelajaran; pengetahuan merupakan nutrisi yang memberikan kemampuan bagi organisasi untuk tumbuh. Individu-individu dalam organisasi bisa saja datang dan pergi, tetapi jika pengetahuan yang bermanfaat hilang, maka perusahaan akan menemui kematiannya.
Penggunaan teknologi oleh organisasi untuk mengelola pengetahuan telah hadir dengan cepat sebagai pembeda yang paling penting antara kesuksesan dan kegagalan di dalam dunia ekonomi global yang sangat kompetitif. Nonaka dan Takeuchi (1995) menyebutkan bahwa kemampuan perusahaan untuk menciptakan, menyimpan, dan menyebarkan pengetahuan merupakan perihal yang sangat penting untuk tetap di depan dalam persaingan kualitas, kecepatan, inovasi, dan harga. Hanya dengan pengembangan dan pelaksanaan sistem dan mekanisme perakitan, pengepakan, promosi, dan distribusi buah dari pemikiran yang akan memberikan kemampuan bagi organisasi untuk transformasi pengetahuan ke dalam kekuatan perusahaan.
Di lain pihak, kebanyakan perusahaan tidak mempunyai kemampuan dalam hal pengelolaan pengetahuan. Hal ini merupakan daerah yang belum terpetakan. Pengelolaan know-how/kecakapan bisa saja berbeda dari pengelolaan kas/uang atau bangunan, tetapi “pengelolaan investasi intelektual suatu perusahaan perlu diperlakukan setiap jengkalnya dengan cukup merepotkan” (Stewart, 1997). Pemerolehan kemampuan untuk mengelola pengetahuan harus menjadi pekerjaan utama dari setiap pekerja.
Organisasi harus belajar tentang bagaimana mengelola mekanistik pengetahuan, seperti mereka belajar tentang bagaimana mengelola mekanistik produksi di era industri. Pada bab selanjutnya, kita akan membahas langkah-langkah dan strategi-strategi untuk pengelolaan pengetahuan yang hanya mungkin dilakukan melalui kegesitan penggunaan teknologi. Untuk memahami lebih baik dan dapat menerapkan langkah-langkah ini, bagaimanpun, kita pertama kali perlu melihat pada perbedaan cara dalam menjelaskan pengetahuan.
Hirarki Pengetahuan
Jika tidak dan jika sampai suatu perusahaan menentukan definisinya sendiri tentang pengetahuan dan mengidentifikasi jenis pengetahuan yang secara organisasi bersifat penting, maka perusahaan itu tidak akan dapat mengelola pengetahuan perusahaannya. Jelasnya, tidak semua pengetahuan mempunyai nilai yang sama. Gambar 15 memperlihatkan suatu hirarki atau rangkaian kesatuan pengetahuan. Pada level atas dari hirarki itu, terdapat peningkatan pada keluasannya, kedalamannya, maknanya, konseptualisasinya, dan nilainya. Sekarang mari kita periksa dengan seksama setiap levelnya, mulai dari bagian bawah.
Data termasuk teks, fakta, gambar yang sudah di-interpretasi, dan kode-kode nomor yang tidak ter-interpretasikan tanpa kontek dan oleh karena itu tanpa makna.
Informasi merupakan data yang dijiwai dengan konteks dan makna, yang bentuk dan isinya dapat diaplikasikan pada tugas tertentu setelah diformalkan, diklasifikasikan, diproses, dan dibentuk.

Pengetahuan meliptui tubuhnya informasi, prinsip-prinsip, dan pengetahuan yang secara aktif memandu penetapan tugas-tugas dan pengelolaan, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Pengetahuan memberikan kemampuan kepada orang untuk menetapkan makna terhadap data dan kemudian menghasilkan informasi. Dengan pengetahuan, orang dapat berurusan dengan cerdas dengan berbagai sumber informasi yang ada dan kemudian mengambil tindakan.
Keahlian merupakan aplikasi pengetahuan yang pas dan efektif  untuk meraih hasil dan mengembangkan kinerja.
Kemampuan mencakup kapasitas dan kemampuan organisasi untuk menciptakan suatu produk, pelayanan, atau proses pada kinerja level tinggi. Hal ini membutuhkan integrasi, koordinasi, dan kerjsama dari berbagai individu dan tim. Kemampuan itu lebih dari kinerja saat ini; kemampuan ini merupakan keadaan mampu untuk belajar, berinovasi, dan mencipta.
Tipe Pengetahuan
Pengetahuan dapat diklasifikasikan menjadi tipe:
·         “Know what” : Mengetahui informasi yang mana yang diperlukan
·         “Know how” : Mengetahuai bagaimana informasi harus diproses
·         “Know how” : Mengetahui kenapa informasi tertentu diperlukan
·         “Know where” : Mengetahui dimana mencari informasi tertentu yang bersifat khusus
·         “Know when” : Mengetahui kapan informasi tertentu diperlukan
Wiig (1997) lebih jauh membedakan pengetahun menjadi
·         Penetapan-tujuan atau besifat idealis: Visi, “kenapa peduli” dengan pengetahuan, atau kreativitas dari motivasi-sendiri
·         Sistematik: Pengetahuan “Know why/Kenapa tahu” untuk memperoleh pemahaman sistem
·         Pragmatis: Pengetahuan “Know how/bagaimana tahu” untuk memperoleh keterampilan modern
·         Otomatis atau bersifat tacit: Pengetahuan “Know What/Tahu apa” untuk pekerjaan yang bersifat rutin
Ketika melakukan pengembangan sistem organisasi berbasis pengetahuan atau corporate memory/memori perusahaan, penting untuk mengenali berbagai perbedaan dan nilai-nilai pengetahuan. Perusahaan-perusahaan yang disiapkan dengan suatu pemahaman akan mampu mengarahkan dengan efektif kebutuhan-kebutuhan organisasinya.
Suatu Model Sistem untuk Pengelolaan Pengetahuan
Mari kita lihat sekarang pada pendekatan sistem yang komprehensif untuk mengelola pengetahuan perusahaan. Subsistem pengetahuan melibatkan enam tahapan, yang meliputi transisi pengetahuan dari sumbernya menuju penggunaannya:
·         Akuisisi
·         Penciptaan
·         Penyimpanan
·         Analisis dan pengumpulan data/data mining
·         Transfer dan diseminasi
·         Aplikasi dan validasi
Subsistem pengetahuan digambarkan dalam Figure 16.
Organisasi belajar dengan efektif dan efisien ketika keenam proses ini berlangsung terus dan interaktif. Keenam proses itu tidak terpisah atau bebas satu dengan lainnya: Informasi harus didistribusikan melalui berbagai saluran, dimana tiap-tiap saluran itu dengan waktu yang berbeda. Manajemen pengetahuan harus diarahkan secara berkelanjutan pada penyaring/filter yang bersifat persepsi sebagaimana kagiatan proaktiv dan reaktiv. Pengelolaan pengetahuan terdapat pada jantungnya bangunan suatu organisasi pembelajaran. Organisai pembelajaran yang sukses secara sistematik dan teknologi akan memandu pengetahuan melalui tiap tahapan dari keenam tahapan tadi.
           



Akuisisi Pengetahuan
Orang terus menerus membutuhkan suatu pengetahuan yang volume dan keberagamannya banyak sekali dari seluruh dunia dalam rangka melakukan kinerja terbaiknya. Organisasi membangun dasar pengetahuannya dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber internal dan eksternal.
Koleksi Pengetahuan secara Internal
Salah satu keluhan terbesar bagi pekerja adalah bahwa organisasi mereka tidak menyentuh porsi khusus dari pengetahuan mereka. Perusahaan-perusahaan seringkali merasa terkejut untuk menjelajah sejumlah modal intelektual terkini dalam otak karyawan mereka, Nonaka menyebutnya (1995) “tacit knowledge/pengetahuan tacit.
Sumber pengetahuan tacit adalah termasuk didalamnya keahlian tiap individu, ingatan, keyakinan, dan asumsi, yang kesemuanya mempunyai nilai bagi organisasi. Pengetahuan seperti ini seringkali sulit untuk dikomunikasikan atau dijelaskan tetapi dapat mempunyai hasil keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan. Alcoa, Matsushita, dan McKinsey & Company telah mendemonstrasikan kemampuan dan kreativitas yang luar biasa dalam pengumpulan pengetahuan para pekerjanya.
Organisasi juga dapat mengambil mode scan/pemindaian lingkungan internalnya secara aktif atau pasif. Di satu sisi, mode-mode itu memungkinkan informasi menyerap atau berhamburan melalui organisasi; dan di sisi lain, mode-mode itu dapat melakukan pemindaian secara aktif lingkungan internalnya sendiri untuk informasi, sebagai refleksi padanya, dan mengubahnya menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Satu contoh yang sangat baik dari pendekatan terakhir adalah Perusahaan 3M/3M Corporation , yang telah dikembangkan kemampuannya untuk memastikan informasi dari para ilmuwan dalam organisasi itu. Melalui strukturisasi dan penguatan yang fleksibel dari nilai berbaginya data kerja, perusahaan itu telah memberikan keuntungan dari sekian banyak informasi, yang pada waktu selanjutnya telah diubah kedalam pengetahuan inovativ dan produk yang diterima pasar.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment